Friday, September 30, 2011

Business Valuation at A Glance

I actually write this to make an easy way to recall my memory about my job description. Last year, I worked in a medicine factory as a quality assurance specialist. But now I am a business valuation analyst of an American business valuation company. When my friends ask me, "Where do you work at?" My answer is, "In a business valuation company." Then they ask, "What is business valuation?"



Business valuation company is not popular in the country where I live, Indonesia. Here, people don't even care about valuing a business, because they don't know the purpose of business valuation. Let me explain, there are several reasons for a company to know their business value: employee stock options (ESOP) sharing, gift or property tax (if they want to share the tax income of some properties they have), stock options, partnership, marital dissolution, and more.


Business valuation is in the area of finance and accounting and I am totally new for this job. What do I do in my office? The essence of my job is making business valuation reports for the clients. Basically, there are three approaches of valuing a business:

1. Income approach
Each company must have periodical financial statements. It is an analyst's job to examine the financial statements, especially the revenue or income part, perform some calculations, and conclude the value of the firm or company. There are two major parts to be examined: capitalization of earnings (Cap. Earnings) and discounted cash flows (DCF) or cash flows. By the case and conditions (e.g. valuing controlling or non-controlling, minority or majority interests), analyst will decide to use control premiums or discount to adjust the value.

2. Market approach
Market conditions influence the value of a company. Talking about discounts, there are two kinds of discount considered: Discount of Lack of Control (DLOC) that represents shareholders' control of the firm, and Discount of Lack of Marketability (DLOM) that represents the ability for a firm to be marketed (sold).

Market approach consists of two methods:
- Public Company (PC) guidelines
This method compares client company's financial to public companies' that have similar business. Data collected from subscribed sites, and those subscriptions are expensive. Analyst has to see the business description and sort the companies which have similar business as client's. Beside the description, analyst had to see those public companies' sales.

- Merger & Acquisition (M&A) guidelines
When using M&A method, analysts will collect M&A transaction data of certain periods from subscribed sites. Then, like the PC method, sort the data, perform some comparisons and calculations. M&A tends to represent control of the firm, while PC method usually follows the nature of DCF.

Then, the analyst will decide to use control premiums or discounts, based on the case and conditions.

3. Asset approach
This kind of approach is based on client company's assets. Net Asset Value (NAV) used in this method. Again, analyst's job is to examine client's financials and perform some calculations before deciding the company's value. Control premiums or discounts can be used to adjust the value, based on the company's conditions.

In a business valuation report, there are company background, profiles, ownership, tax status, economic outlook, and industry analysis, beside the financial methods.

Friday, September 16, 2011

Apakah atasan yang baik harus galak?

Sekian tahun yang lalu saya "dicekoki" ilmu manajemen oleh dosen-dosen saya. Salah satunya ilmu untuk men-treatment karyawan, siapa tau di kemudian hari saya jadi bos :D Teori yang satu ini saya pegang sampai sekarang dan selama saya bekerja, teori ini sering nggak diaplikasikan oleh para atasan di tempat kerja saya. Malahan dulu sewaktu saya cerita kalau saya diajari teori ini, saya ditertawakan. Teman-teman saya enggan mengaplikasikannya.

Teori motivasi X dan Y pertama kali dikemukakan oleh Douglas McGregor tahun 1960-an. McGregor mengelompokkan karyawan menjadi 2 tipe, yaitu:
Tipe X
Tipe ini diasumsikan sebagai karyawan yang malas, tidak suka bekerja, dan (cenderung) berpendidikan rendah. Kalau di Indonesia ya SMA ke-bawah. Posisi atau jabatan karyawan ini biasanya level pelaksana atau blue collar. Untuk membuat karyawan tipe ini bekerja adalah dengan supervisi (pengawasan) dan aturan yang ketat. Petunjuk cara bekerja harus diberikan sejelas mungkin dan rinci (ini yang banyak dilanggar juga, si bos sering nggak sabar ngajari bawahannya). Atasan yang galak, rese, dan aturan yang ketat cocok untuk bawahan tipe X ini, supaya tidak menyimpang dari pekerjaannya.



Tipe Y
Tipe Y ini diasumsikan sebagai karyawan yang suka bekerja dan (cenderung) berpendidikan tinggi. Sarjana ke-atas, lah. Posisi dengan tingkat pendidikan seperti ini biasanya level staf ke atas, atau pengambil keputusan (yang banyak "pakai otak" :p). Oleh karenanya, supaya lebih termotivasi dalam bekerja, karyawan tipe ini lebih suka diberi kebebasan menggunakan otaknya. Kalau salah ya cukup ditegur dengan halus atau disindir. Bila karyawan tipe Y ini diperlakukan seperti karyawan tipe X, maka yang terjadi bukannya kerja produktif, malah jadi sebel dan berantem sama atasannya (lho malah curhat :p).

Contoh yang mudah dipahami untuk mengaplikasikan teori ini adalah dengan melihat bagaimana seorang supervisor lini produksi mendidik para operator mesin, dengan bagaimana seorang manajer mendidik supervisornya. Seharusnya sih berbeda :p

Hal yang mungkin membuat sulit untuk menerapkan teori ini adalah sesuatu yang disebut "seni membaca orang". Seharusnya seorang atasan memiliki rasa "seni" ini setelah bekerja beberapa saat dengan bawahannya, sehingga dapat mengidentifikasi "tipe" bawahan tersebut, apakah tipe X atau tipe Y. 

Hal lainnya yang biasa bermasalah adalah "berkaca sebelum berbuat". Banyak orang tidak melakukan ini. Padahal hal ini penting lho. Sekedar berbagi informasi, dalam dunia profesi Apoteker, terdapat beberapa kode etik, salah satunya memperlakukan sejawat sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Jadi, harus "berkaca" dulu sebelum melakukan sesuatu. Kalau memiliki bawahan yang sudah "terbaca" perilakunya, maka sang atasan hendaknya berpikir dahulu seandainya dia menerapkan suatu kebijakan kepada bawahannya.
 
Hal sulit yang ketiga adalah tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan emosi. Bukan mengesampingkan persaan, karena manusia bukan robot, tetapi bila hal yang membuat bad mood itu ada di luar lingkungan kerja, sebaiknya jangan ditunjukkan saat bekerja, otherwise rekan-rekan kerja Anda yang jadi korban. Contohlah seorang teller atau resepsionis hotel yang tetap tersenyum kepada konsumen, walaupun mungkin sedang jengkel dengan rekan kerja atau keluarganya. So bagi teman-teman yang sudah jadi bos, jadilah bos yang baik bagi bawahan Anda. Bos yang baik nggak harus galak kok :)  

Monday, August 15, 2011

Vanessa Carlton - Carousel

Waktu kerja, dengerin radio tau-tau nemu lagu ini. Sekilas mirip sama lagu Indonesia, tapi komposisi suara & permainan pianonya lebih bagus. Lirik lagunya pun membuat saya terharu karena ingat masa-masa broken heart. Vanessa tampaknya terinspirasi fantasi masa kecil: carousel dan cerita Alice In Wonderland yang ada kelinci putih sedang terburu-buru. Perjalanan cinta serasa berputar-putar seperti carousel. Semoga lirik lagu ini bisa menghibur seorang teman yang sedang patah hati :)

Sebetulnya saya sudah berhasil menemukan cara bermain pianonya, pakai nada dasar C :) cuma belum sempat direkam. Semoga suatu saat nanti bisa menampilkan video saya memainkan lagu Carousel ini. Sementara, saya beri dulu penampilan Vanessa Carlton favorit saya, yaitu saat menyanyikan lagu ini di Billboard.


For all you broken hearted lovers lost
Go find another one
Cause you know time won't wait and you'll be late
White rabbits on the run

It's hard to know what's good for you

I know she let you down
But the fever breaks when it's too much to take
So you can put your weapons down

And all you'll hear is the music

And beauty stands before you
And love comes back around again
It's a carousel, my friend

It's never too late to change the pace

Oh, how the days creep up on you
But the goodness is something you don't have to chase
Cause it's following you

And all you'll hear is the music

And beauty stands before you
And love comes back around again
It's a carousel, my friend

Ooh, Oooh, Oooh, Ooh, Ooh, Ooh,ooh, oooh


I thought I heard your voice in the thunder

Is the owl casting spells that we're under?
I thought I heard your voice in the thunder
Is the owl casting spells that we're under, under

Oooh


And all I hear is the music

And beauty stands before me
And love comes back around again
It's a carousel, my friend

It's in the music

And beauty stands before you
And love comes back around again
It's a carousel, a carousel
It's a carousel, my friend

Time won't wait, so don't be late

White rabbits on the run



Saturday, August 13, 2011

Macau-KL-Bandung

Sebelumnya: Macau Again!

February 16, 2011, jam 6.30 pagi saya masih terbangun di tempat tidur tingkat Augusters Lodge, Macau. Masih sepi, Richard baru akan tidur karena bekerja semalaman. Kami segera mandi dan packing. Waktunya pulang, Jogja masih jauh, hehehe... Sesuai saran Richard, kami naik bis MT1/MT2 dari Grand Lisboa ke Macau Aeroporto. Bis mulai beroperasi jam 7 pagi. Kami terbang jam 10.30 dari Macau. Karena kami baru pertama kali dan tidak bisa memperkirakan lama waktu ke bandara naik bis, kami naik bis yang jam 7.30 pagi. Warning: sedia uang receh 5 MOP untuk bayar bis. Nggak tahunya perjalanan ke bandara cuma sekitar 30 menit. Bandara masih sepi deh... Ya sudah, nunggu sambil tidur-tiduran di kursi. Mana dingin banget suhunya (sekitar 8 derajat Celcius). Money changer pun belum buka, padahal Tias mau menukar MOP ke HKD, biar bisa ditukarkan di Indonesia.


Bandara Macau di pagi hari


Setelah menunggu, sekitar jam 9 kami naik ke terminal pemberangkatan bersama penumpang asal Macau yang lain. Wah, orang yang bareng naik lift bawaannya buanyaak... ke toilet aja tuh koper-koper raksasa ikut dibawa masuk! Sampai di atas, ternyata ada money changer (si money changer baru buka jam 9), ya sudah tukar uang & beli sarapan di semacam Circle K Macau. Di sana ada makanan aneh-aneh kalau menurut orang Indonesia. Ada berbagai mie instan raksasa dengan harga yang bisa dibilang murah. Di bandara Macau ternyata nggak bisa di"curangi" seperti KL :p, botol minum saya yang berisi air sedikit (kurang dari 100 mL) terpaksa ditinggal, karena no water allowed. Padahal sudah siap-siap saya minum tuh air. Tapi untungnya saya masih bawa botol kosong di tas, lumayan, bisa buat refill di bandara KL.

Tepat pukul 10.45 waktu Macau, pesawat berangkat. Tempat duduk di seberang saya & Tias diisi oleh 2 cewek Macau yang ribut melulu. Dandanan mereka gaul tapi murahan, hehehe, terus yang bikin sebel, mereka jorok sekali! Bayangkan, di pesawat yang berkarpet merah itu, mereka makan daging olahan (kan seharusnya nggak boleh bawa itu) pakai tangan langsung, dengan bersuara "cap-cap-cap"... Aih, kalau di Indonesia nggak sopan sekali. Yang parah, tulang-tulangnya mereka buang di bawah jok pesawat! Yekk... ini pesawat, cik, bukan bis umum! Terus begitu selesai makan, ada 1 orang lagi teman mereka gabung di sana, main kartu (tampaknya judi kartu) dengan hebohnya, padahal lampu sabuk pengaman masih nyala. Huh, daripada lihat mereka, lebih baik lihat jendela, soalnya kata pilot, kami lewat di atas Bangkok & Vietnam. Lumayan, pernah ke sana walaupun cuma di udara :)

Sekitar jam 14.30, kami sampai di KL, makan di sana, lalu kembali menunggu flight ke Bandung jam 7 malam... Mati gaya nih... Waktu menunggu kami isi dengan tidurrr, hehehe... Setelah tidur, akhirnya naik ke pesawat... Horee ternyata kami dapat tiket hot seat lagi, padahal nggak pesan hot seat. Saya duduk di dekat pintu darurat yang kakinya luas. Tak lama setelah duduk, tampak sosok yang saya kenal karena dulu sering muncul di TV: Aa Gym :) Ternya Aa bukan di hot seat (lebih beruntung saya nih). Di tengah penerbangan, Aa pindah tempat duduk di belakang (ouh, ternyata bisa ya seperti itu...). Di udara, dari jendela saya bisa melihat petir menyambar-nyambar, wow, namun begitu mendarat di Bandung, nggak hujan tuh. Di Bandung, pemeriksaan barang cukup ribet, pakai acara buka-buka tas segala, padahal sudah di-scan. Mungkin takut ada penyelundup narkoba ya... Ya sudah, nurut saja...

Dari bandara, kami naik taksi ke kost Tias. Di sana mandi, copy foto-foto, terus tidur sebentar (1 jam). Jam 1 pagi, saya ke Cipaganti naik taksi, lalu naik travel yang sudah dipesan ke bandara Soetta. Sampai di sana masih jam 4 pagi, bandara belum buka. Menjelang jam 5, baru deh saya masuk, self check-in, terus ke ruang tunggu pemberangkatan. Lumayan, bisa tidur sebentar di sana, sebelum boarding. Pesawat ke Jogja berangkat jam 6 pagi. Akhirnya jam 7 pagi saya tiba di Jogja. Yah, sayangnya nggak bisa ikut kuliah pengganti jam 7 deh, tapi syukur sudah pergi ke Cina & balik dengan selamat tanpa delay :)

Bulan Maret 2012 saya berencana jalan-jalan lagi dengan rute yang sama, dengan teman yang berbeda ^_^ Belum puas ngobok-obok Macau-HK-Shenzhen! See you next year.

-The End-


Saturday, July 23, 2011

Macau (Again!)

-Sambungan dari 3 Hours in Shenzhen-

Selasa, 15 Februari 2011, pagi-pagi jam 7.30, di tengah udara Hong Kong yang dingin saya dan Tias sudah keluar penginapan untuk menukarkan Octopus Card dengan deposit kami, kira-kira HKD 50. Sebelum ditukar, sisa HKD 6 di Octopus itu kami gunakan untuk beli sarapan di 7Eleven. Lumayan, bisa dapat semacam bakpao daging 1 biji :)
Saya dengan bawaan lengkap di tepi dermaga HK ^^

Dermaga HongKong

 Tias di depan toko sekitar dermaga

Kira-kira jam 8 pagi, kami check-out lalu jalan ke pelabuhan. Wah kalau begini sudah mirip turis kesasar soalnya bawaan kami jadi bertambah :p Kami berputar-putar dulu di sekitar pelabuhan (ngeles kalau nyasar :)) sambil cari cokelat Valentine. Putar-putar sana-sini sampai ke kantor informasi turis, eh nggak nemu toko cokelat yang menarik. Ya sudah, jalan saja ke pelabuhan, eh malah nemu toko cokelat lucu-lucu di harbor ^^. Kami menyeberang ke Macau naik Cotai Strip seharga HKD 136. Lebih murah daripada First Ferry dengan fasilitas kurang-lebih sama. Satu jam di lautan, sampai juga di pelabuhan Macau sekitar jam 10 siang. Begitu sampai pintu luar pelabuhan, banyak pemuda-pemudi necis membawa papan iklan hotel dan casino, berikut shuttle bus-nya. Kami mencari-cari shuttle bus Grand Lisboa, salah satu hotel-casino yang terkenal di Macau. Nebeng shuttle bus itu gratisan, sampai juga kami ke Grand Lisboa.
Ini yang namanya Grand Lisboa

Berikutnya, berbekal peta dan kompas, kami mecari-cari penginapan yang sudah kami pesan, Augusters Lodge. Dengan susah payah kami mencari Rua do Dr. Pedro Jose Lobo. Di Macau ternyata cukup banyak pendatang. Di tengah kebingungan cari "rua" (jalan) itu, ada orang (mungkin orang Afrika) menyapa kami lalu membantu kami mencari Augusters Lodge. Setelah ketemu penginapannya, orang itu memberi kontak. Ternyata namanya Mr. Piano (alat musik itu, hahaha...). Thank you, Mr. Piano :)

Augusters Lodge penginapannya kecil, tapi nyaman. Sampai di sana, kami disambut sang pemilik, Richard. Di Augusters, kami harus menyetor deposit (Lupa jumlahnya, HKD 100 atau berapa, mungkin Tias ingat, soalnya pakai uangnya :p Deposit dikembalikan sewaktu check-out). Karena masih "buta" Macau, saya ngobrol sama Richard, 2 cowok Inggris (turis juga), dan 1 cowok Belanda (dia ini lagi cari kerja di Macau :). Richard menyarankan kami untuk mengunjungi beberapa tempat yang "wajib" dikunjungi kalau ke Macau, antaralain: Macau Museum dekat St. Paul's Ruins, Senado Square, Fisherman's Wharf, dan The Venetian (yang terakhir ini kata Richard, "It's very good for you, girls, you can order everything there!", hehehe...). Richard ramah sekali, dia orang Katolik dari Bangladesh (langka!). Selain Richard, ada ibu-ibu Filipina (mungkin istrinya si Richard, hehehe), dan 1 maid Filipina yang ikut menjaga penginapan. Di Augusters minum gratis, teh atau kopi, kita bisa memasak di dapur. Kalau kehabisan sabun atau shampo, di sana juga ada sabun dan shampo gratis.

Tujuan pertama kami adalah kompleks St. Paul's Ruins, Macau Museum, dan Senado Square yang kata Richard bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Si cowok-cowok Inggris juga ikut dengan kami karena mereka juga buta arah, haha... Sekali lagi, berbekal peta dan kompas, kami berjalan-jalan. Pertama, si bule yang di depan karena katanya sudah pernah ke objek wisata itu. Tapi lama-lama seperti rombongan turis kesasar, belum lagi jalannya naik-turun curam. Susah juga menyamai langkah kaki bule-bule yang tinggi itu. Nah, berhubung kesasar berjamaah, kami bertanya pada polisi yang sedang bertugas di tengah jalan (orang Macau sedikit yang bisa bahasa inggris, jadi kami tanya si polisi, kami sedang ada di mana :p). Waktu lihat peta kami, itu polisi aja mikir, sedang di titik mana... Akhirnya dia menunjuk suatu titik di peta dan menggunakan kompas, kami kembali menelusuri jalan. Ha.. kali ini cewek Indonesia yang jadi ketua rombongan :p Sampai tengah, kami bingung lagi, tidak ada tanda-tanda pintu masuk objek wisata. Akhirnya saya bertanya kepada seorang nenek menggunakan bahasa isyarat. Setelah si nenek menunjukkan arah, saya cuma bilang "xie-xie" (terima kasih), eh setelah itu si nenek mengira saya bisa bahasa mandarin dan cerita macam-macam... Hee.. Ya udah dengarkan saja sambil jalan (padahal nggak ngerti apa yang dibicarakan, hahaha..). Eh tau-tau nyampe di Macau Museum, setelah masuk-masuk gang dan mendaki, hohoho... Sampai museum, saya dan Tias berpisah dengan 2 cowok Inggris yang membuat kami tersesat itu :p

Macau Museum terletak di atas bukit, sehingga dari pagar meriam museum, kami bisa melihat kota Macau yang indah. Di sana juga disediakan teleskop kuno besar untuk melihat kota. Di bawah museum ada St. Paul's Ruins, reruntuhan gereja yang tinggal tembok depannya saja, bangunan khas Macau. Kami foto-foto di sana bersama ratusan pengunjung. Rebutan cari spot yang bagus, termasuk foto sama panda ^^ (ada maskot panda besar sekali). Setelah itu, kami ke Senado Square, alun-alun kota yang banyak bangunan ala Portugis-nya. Tak lupa Tias membeli eggtaart, kue khas Macau yang terbuat dari kuning telur (1 kue terbuat dari 4 kuning telur). Nggak heran, sepotong kue harganya bisa 8 MOP (sekitar Rp10 ribu), padahal kuenya kecil. Saatnya menuju objek wisata berikutnya: Fisherman's Wharf.

 I shot the Grand Lisboa from the Macau Museum

Teleskop museum untuk lihat kota dari atas 

 Museu de Macau

 Tias di depan St. Paul's Ruins

Foto sama Panda ^^

 
Senado Square

Kami berjalan kembali menuju Grand Lisboa, lalu menumpang shuttle bus menuju pelabuhan. Fisherman's Wharf dapat dicapai dengan berjalan kaki dari pelabuhan (agak jauh juga sih, sekitar 15 menit jalan, lumayan, biar nggak dingin :). Di Fisherman's Wharf banyak objek menarik untuk foto-foto. Ada beberapa bangunan gaya Eropa, seperti replika Colosseum. Masuknya gratis pula ^_^ Oiya, salah satu toilet bersih Macau di sini nih, di area game arcade. Toiletnya juga luas per biliknya. Di sini rasa penasaran saya terpenuhi karena berhasil memetik sebuah jeruk shantang mini :p Sepanjang jalan sudah ngiler lihat tanaman jeruk kecil-kecil pada berbuah. Fisherman's Wharf dekat dengan sebuah benteng antik dan salah satu casino besar di Macau: Sands (cabangnya Las Vegas). Benar-benar tempat bagus untuk berfoto. Belum lagi cafe di tepi dermaga yang romantis ^^ Kami bermain-main di Fisherman's Wharf hingga menjelang malam, lalu berjalan kembali ke pelabuhan.
Fisherman's Wharf dekat benteng tua :)

 Sakura putih di Macau

Di depan game center yang toiletnya bersih itu

Cari tulisan "Macau" :p

Salah satu bangunan megah di Fisherman's Wharf

Dermaga yang romantis :p

Dekat "Sands", casino Las Vegas

Macau winter... brrr...

Nihhh... Fisherman's Wharf


Sesampainya di pelabuhan, kami memutuskan untuk menumpang shuttle bus The Venetian, casino terbesar di Macau, bahkan konon se-Asia, memenuhi rasa penasaran kami. Perjalanan ke Venetian dihiasi pemandangan indah karena kami melalui jembatan, menyeberang dari Pulau Macau ke Pulau Taipa. Di jembatan itu, kami bisa melihat patung Kuan Lam di tepi laut, juga arsitektur unik lainnya. Begitu sampai di The Venetian, wooowww ternyata memang besar banget! Dengan PeDe-nya, saya dan Tias masuk hotel-casino terbesar itu. Ckckck... asli arsitektur mewah Venesia. Kami kagum dengan desain interior The Venetian. Di sana kami juga sempat mencicipi sampel makanan (daging), gratisan :p yummy! Foto sana-foto sini, bahkan di pintu masuk ada mobil mewah grand prize berjudi. Saat kami akan masuk ke arena judi, tiba-tiba ada satpam berseragam kuning menanyakan ID kami. Heran, padahal orang dengan enaknya seliweran di sana. Ohoho... tuh satpam mengira kami masih di bawah 18 tahun :))) Kami imut sih :p Untungnya paspor selalu di kantong. Akhirnya kami diperbolehkan masuk area judi. Sebetulnya tujuan utama kami masuk sana adalah cari minuman gratis, bukan ikut judi (lah huruf petunjuk di alatnya kebanyakan huruf cina), sayangnya di sana sedang ga ada tawaran minuman, huww... Saya malah sempat dimarahi satpam karena berfoto di samping mobil hadiah -kena deh >.<- Padahal di pintu depan boleh lho foto-foto, dan nggak ada tanda atau tulisan (ga tau sih kalau huruf cina) "dilarang berfoto" di situ... Tapi kami ada cara lain memotret kegiatan di area judi itu, yaitu dengan naik ke balkon di atasnya dan berfoto di sana, hehehe... Gile, langit-langit The Venetian dilukisi malaikat-malaikat ala Italia dengan langit biru... beautiful!


Sudah sampai Venetian, rugi kalau nggak jalan-jalan sekalian. Kami jalan ke area mall dan akhirnya menemukan kanal sungai dengan gondola, bangunan-bangunan ala Venesia, dan (lukisan) langit biru. Woww... more beautiful! Puas-puasin deh foto di sana.
 Judi berhadiah BMW

 Ini lukisan di langit-langit The Venetian

 
Arena judi The Venetian.. hohoho...

Foto ala Venesia dengan langit biru ^^

 Kanal di The Venetian, buat lewat gondola


Puas berkeliling Venetian yang megah, kami kembali ke pelabuhan naik shuttle bus gratisan lagi. Waktu itu sudah malam, sekitar jam 9, dan dinginnya menusuk jaket. Dari pelabuhan, kami kembali naik shuttle bus gratisan (lagi!) menuju Grand Lisboa. Karena dingin, kami memutuskan untuk mampir ke Casino Lisboa. Eh di sana ada anak kecil bermain di pintu. Hoo ya ya, si anak nggak boleh masuk karena masih di bawah 18 tahun, jadi dia menunggu orang tuanya di depan pintu. Masuk casino, kami mendapat yang kami inginkan, yaitu: minuman panas gratisan! Hehehe... yup, kami dapat teh tarik cina yang super-panas. Sambil menunggu minuman agak dingin, kami duduk di pinggir area judi sambil memperhatikan orang-orang yang sedang bermain. Saat itu barulah kami melihat kejorokan orang cina... Ada seorang kakek batuk dan meludah di... karpet! Idiihhh... padahal tempat bagusnya kayak hotel gitu >.< Yah itulah ketidaksiapan menghadapi zaman modern. Selesai minum, saya dan Tias berjalan kembali ke penginapan.

Nih, Casino Lisboa


Di penginapan, kedua orang Inggris sudah kembali dan bersiap keluar lagi (cari makan katanya), si orang Belanda sedang periksa e-mail lamaran pekerjaannya di komputer yang memang disediakan untuk internet gratis. Tias segera mandi, sementara saya mengobrol dulu dengan si Belanda dan Richard. Iseng-iseng saya mencicipi jeruk yang tadi bikin penasaran. Bwehh... ternyata asem banget! Pantesan tanaman jeruk di jalan-jalan sana utuh nggak dipetiki orang. Beberapa saat kemudian, kami ternyata mendapat teman: 2 cewek dari Jakarta yang tampaknya nggak ahli membaca peta. Cewek-cewek itu punya itinerary yang mirip dengan kami, bedanya, begitu mendarat di Macau mereka naik taksi ke penginapan, sedangkan kami ditampung TKW (baca: Pelajaran dari Macau). Mereka juga berencana ke HongKong dan menginap di penginapan yang sama dengan yang kami inapi. Bedanya lagi, mereka nggak berencana ke Shenzhen. Karena mereka tampak buta arah, saya tunjukkan tempat-tempat wisata yang kami kunjungi di Macau dengan peta. Kemudian mereka meminta peta saya. Okelah.. saya masih ada petanya Tias. Kemudian mereka bertanya lagi arah utara-selatan, etc. Saya bilang kalau saya pakai kompas. Eeehhh kompas saya mau diminta! Ogah dong... Karena melihat karakter mereka dan sudah capek, Tias segera ke kamar. Sementara saya masih bermain internet di ruang tengah. Kedua cewek Indonesia yang baru datang itu memutuskan berjalan kaki mencari makan di luar (woow, it's 10.30 pm and it's soo cold outside, plus they can't read the map!). Selesai berinternet ria, saya pergi tidur, karena keesokan paginya kami harus terbang jam 9.30 ke Kuala Lumpur. Richard bilang kalau bis ke bandara Macau baru ada sekitar jam 7 pagi dan kami tidak bisa memprediksi lama perjalanan ke bandara. Ya sudah, tidur dulu biar bisa bangun pagi...


-bersambung ke post selanjutnya-



   

Thursday, July 14, 2011

Loyalitas = Kesetiaan :)

Di kuliah Advanced Consumer Behavior beberapa pertemuan yang lalu, ada artikel menarik dari Reto Felix tahun 2009 yang berjudul Explaining Loyalty: The Personal Relationship Analogy. Sekedar bagi-bagi ilmu saja nih, biar lebih mudah memahami "loyalitas" di bidang pemasaran.



Reto Felix membuat perumpamaan untuk menjelaskan loyalitas dengan hubungan sepasang manusia. Menurut dia, loyalitas atau kesetiaan itu ada 6 tipe, yaitu:

1. Behavioral loyalty
Tipe ini diumpamakan sebagai seseorang yang sangat setia dengan pasangannya, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Intinya, kesetiaan itu sudah menjadi habit atau kebiasaan yang wajib dilakukan terhadap pasangannya yang hanya seorang itu, sehingga bila diwujudkan dalam perilaku pembelian suatu merek, yang dibeli ya merek itu terus karena sudah menjadi kebiasaan. Akan aneh bila kebiasaan itu tidak dilakukan.

2. True loyalty
True loyalty diumpamakan sebagai seseorang yang cinta mati pada pasangannya, sehingga ia dapat memahami dan memaafkan keburukan pasangannya itu. Bila sang pacar lupa menjemput, pasangannya masih mau jadi pacarnya. Dalam perilaku konsumen, misalkan saat membeli makanan di rumah makan langganan, bila masakan terasa kurang asin ataupun misalkan kurang kerupuk, pelanggan tersebut masih memaafkan dan mau untuk kembali ke rumah makan itu.

3. Inertia
Ini digambarkan sebagai orang yang pasrah, "aku terpaksa memilih pasanganku itu karena adanya ya hanya dia, yang mau sama aku ya cuma dia." Kalau diterapkan pada perilaku konsumen, ya, konsumen loyal pada perusahaan karena hanya perusahaan/produk/merek tersebut yang mampu memenuhi kebutuhannya (bisa juga perusahaan monopoli). Contoh: rumah tangga dengan PLN.

4. Latent loyalty
Kalau tipe yang ini sih sering ditemui, yaitu secret admirer. Seorang cowok suka dan setia pada seorang cewek, namun belum berani mengungkapkan perasaannya. Ya, otomatis belum "memiliki" si cewek itu dong. Ini biasa terjadi bila terdapat "halangan" untuk membeli suatu merek yang kita kagumi. Biasanya sih karena budget terbatas. Contohnya: kebanyakan orang setia pada merek mobil BMW, mengaguminya, dan ingin memilikinya, namun apa daya, uang belum cukup untuk membelinya.

5. Multi-brand loyalty
Tipe ini dianalogikan sebagai orang yang berpoligami atau poliandri, punya pasangan lebih dari 1 orang dan setia pada semua pasangannya itu. Ya, dalam perilaku konsumen, ada orang yang setia pada lebih dari 1 merek. Pembeli tipe ini tidak terlalu peduli pada merek, yang penting fungsi produk. Jenis produk yang biasa "diselingkuhi" adalah produk convenience, seperti tissue.

6. Confirmative loyalty
Tipe ini adalah tipe pasangan yang suka ngetes, masih coba-coba. Gimana tuh? Sudah punya pasangan, masih coba-coba sama yang lain untuk menguji. Kalau lebih bagus pasangannya ya dia akan kembali, tapi sebaliknya, bila bagus "yang lain", ya putus deh... Dalam perilaku konsumen, orang yang sudah setia pada 1 merek kadang-kadang masih mencoba-coba merek yang lain, terutama bila merek itu baru. Kalau merek lama ternyata lebih bagus, ya konsumen itu akan kembali menggunakannya, tapi kalau sebaliknya, si konsumen akan beralih ke merek yang baru.

Termasuk tipe apakah Anda? :)

 

Monday, June 27, 2011

Marketing (Fun) Facts

Don't you know....?

1. Coca-Cola diformulasikan oleh seorang farmasis (seperti saya :) bernama John Pemberton dari Eagle Drug and Chemical Company, Georgia, U.S.A. Penemuan Coca-Cola ini merupakan sebuah bukti bahwa farmasis memang pintar dalam memformulasikan sesuatu, namun bodoh dalam pemasaran (no offense lho... karena saya sendiri juga seorang Apoteker). Pada saat itu, minuman Coca-Wine sedang populer dan Coca-Cola merupakan versi non-alkohol dari wine tersebut. Ini yang membuktikan "kebodohan" sang penemu dalam marketing: Coca-Cola dijual sebagai obat paten! Kalau ditanya obat apa, menurut sang penemu, Coca-Cola dapat menyembuhkan kecanduan morfin, mual, pusing, bahkan impotensi. Hebat ya si Coca-Cola?

Sayangnya, si penemu malah tidak sukses, karena tidak mampu memasarkan produknya dengan baik. Dia menjual formula Coca-Cola kepada beberapa temannya, salah satunya Asa Griggs Candler, seorang pebisnis apotek, bank, dan pabrik obat (bukan Apoteker lho, karena dia jebolan SMU). Di tangan Candler, Coca-Cola mulai dijual sebagai minuman, bukan obat. Candler juga beriklan dengan memasang logo Coca-Cola di berbagai tempat, juga menyediakan "kupon Cola" yang mendongkrak penjualan, begitu seterusnya hingga Coca-Cola Company menjadi besar seperti saat ini. Ya, ahli kimia dan farmasi belum tentu ahli pemasaran bukan? Hehehe....


2. "Kodak", nama ini tentu tak asing di telinga kita. Para pencetus merek ini konon mencari satu kata yang pas dan dapat dibaca dengan bunyi yang sama di seluruh dunia. Setelah disurvei sana-sini ketemulah nama "Kodak".

Oh ya, another Kodak's fact yang bisa jadi pembelajaran dunia marketing adalah jangan terpaku pada satu produk. Pemasar berangkat dari kebutuhan dan keinginan konsumen. Gampang-nya, untuk membajak sawah secara efisien diperlukan suatu alat. Kira-kira mana yang menang: pemasar yang menyediakan traktor atau pemasar yang fokus membuat satu cangkul berkualitas bahkan bertatahkan berlian? Ilustrasi ini membuat kita lebih mudah memahami marketing concept. Demikian pula kasus Kodak. Dulu Kodak dikenal sebagai merek kamera film (langsung cetak!) dan film yang terbaik di dunia. Kodak terus berusaha membuat film berkualitas paling baik. Namun mereka terkena marketing myopia alias terlena dengan film-nya, sampai tidak menyadari adanya "celah" kamera digital yang dikembangkan Sony :) Saat kamera digital muncul, para produsen kamera film dan film terpukul. Bahkan banyak yang bangkrut. Namun, Kodak "selamat" karena mampu mengikuti digitalisasi, walaupun bukan (belum) sebagai market leader lagi.


3. Pernah dengar merek mobil "Datsun"? Sekarang jadi "Nissan". Pernah kan? Perubahan nama "Datsun" jadi "Nissan" disebabkan oleh pengucapannya. Merek mobil ini juga dipasarkan di Amerika Serikat. Orang sana yang berbahasa inggris tidak suka mengucapkan merek "Datsun" karena mirip dengan pengucapan "dead-son" yang berarti anak laki-laki yang meninggal. Pemasar kemudian mengganti mereknya menjadi "Nissan" yang dibaca seperti "nice-son" yang berarti anak laki-laki yang baik. Wha, padahal kalau di Indonesia kan artinya malah batu kuburan... Tapi orang Indonesia sih cuek aja, yang penting mobil bagus, hehehe... Language matters!
Kedua logo ini masih versi lama


4. Kenal Ronald McDonald? Yup, dia maskot McD yang bentuknya badut tersenyum :) Tapi di Jepang, maskot McD bukan si Ronald, tapi sepupunya Ronald, si Donald McDonald (kayak nama orang Sunda, euy!). Tahukah Anda bedanya? Perhatikan baik-baik senyum kedua maskot ini... Ya, si Donald giginya ga kelihatan! Masih ingat ajaran orang tua yang kalau menguap/tertawa mulutnya ditutupi? Ajaran Jepang juga demikian. Tidak sopan kalau gigi sampai terlihat. Maka, maskot McD di sana dibuat tidak terlihat giginya :D
Selain itu, orang Jepang punya masalah bilang huruf "L". Kadang-kadang mereka nggak bisa membedakan "R" dengan "L". Nah, biar selamat, si Ronald digantikan sepupunya: Donald.



5. Bagi penggemar kopi, kalau pergi ke timur tengah mungkin tidak menemukan Starbucks sebanyak di Indonesia. Starbucks mengalami beberapa kesulitan untuk memasuki pasar timur tengah, terutama di Arab. Kesulitan ini disebabkan oleh logo Starbucks. Di Arab (terutama Saudi), logo itu diprotes karena menampilkan sosok wanita tanpa jilbab dengan rambut terurai dan wajah terekspos. Sosok ini tidak sesuai dengan kaidah berpakaian di sana. Sedangkan masalah lainnya, logo tersebut mirip dengan Queen Esther, seorang ratu Yahudi-Persia. Masalahnya, orang timur tengah cukup sensitif dengan Jews atau Yahudi. Akhirnya pihak Starbuck mengklarifikasi bahwa logonya bukan Queen Esther, melainkan putri duyung. Sedangkan kemunculan logo tersebut dikurangi (di cabang Uni Emirat Arab lebih ditonjolkan tulisan "Starbucks Coffee" dengan font khas Starbucks).
Cabang Starbucks di Mall of Uni Arab Emirates