Thursday, April 11, 2013

Rome - Vatican: berangkat!

Hhhh... akhirnya bisa menyempatkan nulis lagi tentang perjalanan saya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, secara tidak terduga saya diundang untuk mempresentasikan tulisan saya di Roma, Italia. Perjuangan cari visa-nya bisa dibaca di sini. Karena saya menjadi penulis tunggal, maka saya sendirian yang diundang dan disponsori. Ber-solo karir deh, bener-bener sendirian.

Rute perjalanan ke Roma tanggal 4-10 Juni 2012 adalah sebagai berikut: Jogja - Jakarta - Doha - Roma (Fiumicino) - Doha - Jakarta - Jogja. Yup, ke Roma saya naik Qatar Airways, karena waktu itu dia yang paling murah. Kalau mau cari tiket internasional (yang pesawatnya besar-besar) bisa dicek www.skyscanner.co.id. Dari Jogja ke Jakarta, saya naik (alm.) Batavia yang penerbangan pagi, karena murah. Padahal terbang ke Doha-nya tengah malam -___- Karena itu adalah hari Minggu, maka bisa puas-puasin kencan di Jakarta (karena waktu itu ada yang diajak kencan) sebelum pergi jauh. Malam jam 21:30, saya diantar naik motor ke Terminal 2 Soetta. Karena yang mengantar belum pernah ke terminal itu, maka salah jalur dan terpaksa berurusan sama polisi :S Sampai bandara untung nggak terlambat, phew...

Waktu check-in, saya diberi kartu warna kuning yang berarti penumpang transit Doha (bukan tujuan akhir). Bagasi juga langsung diambil di Roma, nggak usah pakai ribet waktu di Doha. Kala itu saya pertama kali terbang dari Terminal 2 internasional. Biasanya di Terminal 3, hehehe. Di ruang tunggu, ternyata ada briefing pramugari, waow... bule-bule berkostum burgundy ^^ Inilah akibatnya kalau sendirian, memperhatikan hal-hal yang nggak penting.


Itu boarding pass saya dan suasana dalam pesawat (sebelum di-stop pramugari :p)

Masuk pesawat, wow lagi, karena saya belum pernah naik pesawat besar, jadinya ndeso. Tempat duduknya 2x4x2 dan kursinya dilengkapi TV yang bisa buat main game, nonton, dengar musik, alias video on demand; bahkan bisa buat SMS/telepon (tapi bayar pakai CC). Mau saya potret, tapi mbak pramugari bilang nggak boleh foto-foto. Ya sudah. Waktu berangkat ke Doha, pesawatnya sepi sampai beberapa penumpang bule bisa tidur di beberapa kursi sekaligus. Di pesawat dipinjami selimut, dikasih kaos kaki & bathroom kit. Makan juga berkali-kali. Pertama dikasih snack dan minuman, dilanjutkan main course, dessert dan minuman, sarapan mengulangi urutan yang sama, dan mengakibatkan saya nggak bisa tidur. Penerbangan Jakarta-Doha memakan waktu 10 jam. Pramugarinya ganti kostum 3x selama penerbangan. Saya duduk di sebelah mbak bule dari Rusia ^^ dia dari Bali, mau pulang ke Moscow. Kami berpisah di Doha. Kami mendarat sekitar jam 5 pagi waktu Doha, dan dia segera naik pesawat ke Moscow, dan saya menunggu 9 jam di Doha karena penerbangan saya ke Roma sekitar jam 1 siang -___-





 
Jadi foto-foto nggak jelas di Doha

Apa yang saya lakukan selama 9 jam sendirian? Yah, pertama, cari muterin keliling ruang tunggu, yah begitu-begitu saja... tokonya juga mahal-mahal. Kedua, berusaha cari colokan charger, karena saya bawa laptop dan belum buat slides untuk presentasi *mode malas* Sayangnya, lokasi colokannya nggak strategis dan sudah dimonopoli orang. Ketiga, cari tempat duduk yang nyaman di gate keberangkatan dan berusaha mencari wi-fi supaya bisa kontak orang rumah. Oh ya, karena transitnya di Timur Tengah, maka orang-orang di situ macam-macam, tanpa bermaksud rasis. Ada bule (white), Asia cina, Asia selatan, TKI dan sebangsanya, serta Afrika. Yang saya sebut terakhir ini yang "harum semerbak" sampai saya menggusur diri dari tempat duduk saya.

Selama 9 jam bengong (mau tidur nggak bisa, saya bawa laptop dan sendirian, takut laptopnya diambil orang), saya main ke kafetaria di sana yang banyak antrian, penasaran. Eh setelah browsing tentang Qatar Airways, disebutkan kalau transit "lama" bisa dapat makan gratis. "Lama" itu mungkin lebih dari 3 jam. Karena yakin transit saya termasuk "lama," maka saya menanyakan ke mbak penjaga kafetaria. Benar, ternyata saya boleh makan gratis. Makanannya nasi Arab (briyani). Lauknya boleh pilih daging ayam, sapi, kambing, atau vegetarian. Saya pilih daging sapi, plus dikasih minum cola gratis. Lumayan.

Setelah menunggu 9 jam, akhirnya saya berangkat lagi ke Roma. Penerbangan ini menggunakan pesawat yang lebih kecil, Airbus A320, seperti pesawat AA domestik, tapi ada on demand entertainment-nya. Di sini saya mulai menemukan rumus baru supaya bisa tidur: wine + jus apel :D Baru tau saya, kalau pesan minum wine di Qatar Airways, kita bakal dikasih 1 botol kecil, GRATIS *grin.* Penerbangan Doha - Roma memakan waktu sekitar 6 jam. Yup, dengan banyaknya sesi ngemil - makan - minum, maka saya jadi mencoba berbagai wine mereka: anggur merah Perancis, anggur putih Perancis, dan anggur putih Chile. Ini sekilas ulasannya. Okay, saya nggliyeng sendiri minum kayak gituan, hahaha...

Pesawat dari Doha ke Roma

Pesawat mendarat mulus di Fiumicino sekitar jam 7 sore (masih terang-benderang!). Bandara di Roma ada 2: Fiumicino (atau Leonardo Da Vinci) dan Ciampino. Sampailah saya di Eropa untuk pertama kalinya. Setelah mengambil bagasi, saya menuju ke pemberhentian kereta menuju Termini (sentral-nya MRT Roma) untuk kemudian naik MRT menuju Lepanto station karena saya tinggal di Happy Days Hostel, dekat Vatican. Naik kereta dari bandara kalau nggak salah ongkosnya 14 euro. Sayangnya, waktu saya datang, keretanya masih lama datangnya (masih harus menunggu 30 menit), sehingga saya ditawari naik van seharga 15 euro. Ya sudahlah, naik van, karena masih harus mencari letak hostel dan keburu malam.

"selamat datang di Roma" dan lorong bandara Fiumicino

Sampai di Termini, saya segera mencari MRT dan yang menjual tiket mingguan. Setelah putar-putar sana-sini bawa barang berat, akhirnya saya menemukan petugas yang bisa memberi petunjuk cara membeli tiket di mesin. Harga tiket untuk seminggu kalau nggak salah 16 euro. Bisa dipakai sepuasnya selama seminggu. Akhirnya bisa naik MRT menuju Lepanto.

Dari stasiun Lepanto, saya masih harus mengandalkan peta untuk menemukan hostel. Terseok-seok, saya mencari Via Cola di Rienzo. Setelah ketemu, saya masih harus jalan agak lama untuk mencapai nomer 217. Gedung hostelnya tua, lift-nya kuno sekali, masih pakai kayu. Hostel itu ada di lantai hampir paling atas. Dari depan pintu hostel, saya mendengar suara musik yang keras. Saat dibukakan pintu, saya bisa lihat, ternyata ada party, uhuy... Waktu check-in, nggak taunya masih harus bayar pajak penginapan 1 euro per hari -__-



*ini foto pas pagi* yang di atas hostel dari depan, lift kuno, dan kamar saya

Lanjut, saya menempati 1 kamar yang isinya 10 orang cewek-cowok. Colokan Italia ternyata sama seperti Indonesia, jadi nggak perlu adaptor. Yang bikin rame, ternyata ada free pasta dan SANGRIA, hohoho... Sangria dibuat dari tequila yang ditambah buah-buahan, seperti koktail gitu. Saya juga baru tahu dibilangin penjaga hostel. Karena saya datang sudah gelap, sangria-nya habis, dan malah saya dibukakan botol besar yang baru, suruh habiskan... wedew... saya "cuma" minum setengah botol. Blub. Habis itu diajak jalan-jalan lihat sekeliling sama si penjaga hostel... sempoyongan. Dia malah traktir saya bir... haha, malam pertama di Roma akhirnya diisi dengan mual-mual >.< Jangan ditiru ya... Sungguh nggak enak rasanya. Karena saya sempoyongan, maka penjaga hostel itu membimbing saya jalan pulang ke hostel, habis itu tepar sampai pagi. Untung saya masih sadar, jadi nggak diapa-apain. Forgive me, o Lord...

Okay, cerita berikutnya bersambung ke post berikutnya juga ya...

Thursday, March 14, 2013

Langkawi

Langkawi, apa itu?! Mungkin belum banyak yang tau tentang tempat yang bernama Langkawi ini. Langkawi adalah sebuah pulau di Kedah, Malaysia. Kalau dilihat di peta, ada di semenanjung (peninsula) sebelah utara, dekat Thailand.

Awal Mei 2012 lalu, saya jalan-jalan hemat bersama seorang teman ke Langkawi. Rutenya Jogja-Jakarta-Penang-Langkawi-Kuala Lumpur-Jakarta-Jogja. Panjang ya? Hehehe, dan bisa ditebak, itu akibat promo salah satu maskapai. Saya bertemu partner jalan saya di Bandara Soekarno-Hatta, karena dia tinggal dekat Jakarta. Waktu itu jadwal penerbangan kami ke Penang sekitar jam 5:30 pagi, sehingga saya memutuskan untuk menginap di Terminal 3 Soetta. Malamnya, teman saya menemani menginap di bandara, lalu paginya terbang ke Penang.

Sesampainya di Penang, kami punya waktu 4 jam sebelum terbang ke Langkawi. Daripada tinggal di bandara Penang yang nggak ada apa-apanya, mendingan jalan. Kami menaiki bis (kalau nggak salah) 401E dari seberang pintu exit bandara. Bis 401E itu menuju ke KOMTAR alias Kompleks Tun Abdul Razak. Sopir bisnya ramah, jadi kami nggak nyasar. Perjalanan ke KOMTAR butuh waktu sekitar 1 jam. Setelah berputar-putar sebentar, kami naik ke lantai 60 menara KOMTAR dengan membayar RM10, untuk melihat pemandangan Penang. Setelah itu, cari makan di mamak (orang Malaysia biasa menyebut warung makan India dengan sebutan itu). Jalan balik ke bandara juga membutuhkan waktu 1 jam. Bisnya sama, dan ditunggu dari KOMTAR. Yang perlu diperhatikan, bis ke bandara itu jarang-jarang, jadi kalau bisa jangan mepet. Kami sudah hampir pindah ke taksi ketika bis akhirnya datang. Siplah, 4 jam = 1 jam jalan ke KOMTAR +1 jam di KOMTAR + 1 jam balik ke bandara + spare time di ruang tunggu bandara.
lantai 60 KOMTAR


Sampai Langkawi, waktu sudah siang. Kami naik taksi ke Langkawi Cable Car di Gunung Matcincang karena lebih dekat. Tarif taksinya sudah standar, RM24 ke Cable Car, RM18 ke daerah Pantai Cenang (penginapan yang kami sewa di daerah sana, namanya Rainbow). Kami memutuskan ke Cable Car terlebih dahulu karena kami nggak yakin kalau persediaan sepeda motor di rental masih ada. Saya sudah menelepon beberapa rental dan habis semua motornya.

Langkawi cable car menerapkan tarif yang berbeda. Untuk selain WN Malaysia, tarifnya RM30 (dewasa). Sewaktu naik cable car sampai atas, nggak boleh bawa botol minum. Botol harus dititipkan di loker dekat penjaga tiket. Sebaiknya ditandai, karena banyak botol di sana. Pemandangan selama perjalanan mendaki Gunung Matcincang bagus ^^ Di atas cuacanya berkabut dan dingin. Sebetulnya ada jembatan menjorok yang bagus juga, tapi sayangnya sedang dalam perbaikan saat itu. Oiya, Langkawi cable car ada jadwal maintenance-nya. Jadi selama maintenance, mereka tutup. Jadwalnya bisa dilihat di sini. Ada sekitar 2-3 pemberhentian selama naik cable-car.
it's me :p

a view from the cable car

the cable car

 Langkawi Skybridge

Setelah naik cable car dan foto-foto di atas, kami melihat-lihat sekitar, lalu pergi ke penginapan naik taksi. Sampai penginapan, kami malah dikasih kamar untuk berdua, bukan dorm seperti pesanan kami. Sebetulnya harganya lebih mahal, tapi waktu itu kami nggak perlu membayar lagi. Tempatnya lumayan enak. Penjaga penginapannya cewek tomboy, namanya Kak Leo. Rainbow juga menyewakan motor dan karena kami datangnya agak sore, motornya malah tersedia :) Yaudah, akhirnya kami menyewa motor matic seharga RM25 untuk sehari. Setelah dibelikan bensin kira-kira RM2 (orang sana nyebutnya "petrol" dan mengisi sendiri di pom), kami naik motor ke Dataran Lang (tempat patung elang, maskot Langkawi) dan menikmati sunset di sana. Letaknya di daerah Kuah, cukup jauh dari Cenang, seperti memutari pulau, lewat pinggir pantai.
Sunset di Dataran Lang bagus untuk foto siluet :p

 Dataran Lang, Kuah Town

Selain ke Dataran Lang, mumpung ke daerah Kuah, kami sekalian berbelanja miniatur minuman keras yang botolnya lucu-lucu di duty-free shops yang banyak di Kuah. Shop yang terkenal adalah Coco Valley (ini di Pantai Cenang juga ada). Oiya, di sana nggak ada sistem tukang parkir gitu, jadi nggak rese kayak di Jogja. Pokoknya taruh motor rapi dan dikunci. Duty free shops di Kuah rata-rata tutup jam 9 malam. Kami dinner masakan cina di Kuah. Balik ke penginapan udah malem, dan kami harus siap-siap dijemput van jam 8 pagi untuk Island Hopping tour. Untuk tour itu biayanya per orang RM25 (ini keberuntungan, dapat murah, biasanya RM35).

Sesuai yang dijanjikan, van sudah datang jam 8 pagi. Setelah menjemput peserta tour lain di guesthouse yang berdekatan, kami pergi ke pier tempat perahu motor sudah menunggu. Perahunya ngebut >.< sampai loncat-loncat kayak jetski, tapi pemandangannya bagus, lautnya biru, banyak tebing dan gua juga. Island Hopping tour mengunjungi 3 pulau. Pulau pertama adalah Dayang Bunting, karena dari kejauhan (bisa dilihat dari perahu motor), bentuk bukit-bukitnya seperti wanita hamil.
Langkawi Pier untuk Island Hopping

Di Pulau Dayang Bunting, kami harus lewat jalan setapak menuju danau. Di danau itu ada fasilitas untuk berenang, ada juga perahu kayuh dan perahu motor kecil kapasitas 2 orang. Kami main perahu kayuh dan itu melelahkan ^^;;; (tadinya mau main canoe, tapi sudah nggak tersedia, terus yang pakai mesin sewanya mahal). Eh iya, kami sering dikira orang Sabah di sana -__-
Tasik Dayang Bunting

Pemberhentian selanjutnya di sekitar Pulau Singa Besar (nggak berhenti di pulaunya karena untuk restorasi mangrove). Di sana, kami disuguhi pemandangan eagle-feeding alias memberi makan elang. Tukang perahu menyebar ikan dan para elang mendekat. Keren sih :)
eagle-feeding


Pemberhentian terakhir adalah Pulau Beras Basah. Di pulau ini bisa berenang dan snorkeling, tapi sayangnya nggak ada kamar ganti. Kami nggak jadi renang-renang deh (padahal sudah pakai rangkap baju renang)... Cukup mainan ayunan di tepi pantai.
Dermaga Beras Basah


Tour selesai sekitar jam 1 siang. Setelah tour, kami makan siang di rumah makan dekat-dekat situ, ke pantainya, terus mampir ke Coco Valley Pantai Cenang. 
Pantai Cenang


Sore harinya, setelah mandi, kami ke bandara, terbang ke KL. Di KL, rencananya kami mau naik bus ke Genting yang paling pagi. Saya sudah titip beli tiket ke teman saya yang sedang S2 di KL. Saya dan teman saya janjian mau ketemu di stasiun LRT jam 6 pagi (karena LRT baru mulai beroperasi jam 6). Well, sebetulnya ini nggak menyenangkan dan saya nggak enak banget sama pertner jalan saya. Tadinya kami tidur sebentar di bandara dan karena takut nggak ada bus ke KL Sentral, kami naik bus jam 2 pagi. Jam 3 pagi sampai KL Sentral dan kami tidur di massage chair yang kosong di kegelapan (karena lampunya sudah dimatikan). Jam 4, kami disuruh pindah sama satpam dengan alasan keamanan. So, akhirnya kami ke McD. Teman saya tidur di McD dan saya ngobrol dengan 2 backpackers, eh yang backpacker 1 ding, orang Amerika, yang 1 businessman kertas, orang Afghanistan.... dan akhirnya saya nggak tidur sampai LRT beroperasi dan kami mengambil tiket, lalu naik bus jam 8 ke Genting. Cable car-nya Genting waktu itu nggak beroperasi (kata teman saya ga ada tiket cable car dijual). Nggak enaknya lagi, Genting berkabut. Alhasil nggak ada yang bisa dilihat. Kami akhirnya naik wahana yang seolah-olah terbang itu (lupa namanya). Udah, itu aja, sama foto-foto. Karena saya menyebalkan, partner jalan saya merasa nggak cocok dan kapok pergi bareng lagi :( Malamnya, kami balik ke Jakarta dari KL, dan pagi-pagi jam 6 saya terbang ke Jogja... Goodbye...

Wednesday, February 27, 2013

Travel Game

Untuk mengusir bosan, iseng main game ini, eh ternyata menarik juga :p


Traveler IQ

The Traveler IQ challenge ranks your geographic knowledge against 9,594,898 other travelers. Brought to you by TravelPod, a member of the TripAdvisor Media Network

Wednesday, February 20, 2013

Management Assignment 2005 - Planning

I teach management for pharmacy students this term, so I opened my archive and I found this! LOL, that's funny, because I didn't think I will travel abroad that time. Even my first flight was when I graduated in 2009.



M. D. Dipta Dharmesti (15690)
Dranantya I. Wirawan (15701)


TUGAS MANAJEMEN SEMESTER PENDEK 2005

Tugas   : Buatlah format rencana yang baik menurut Anda.
Jawab  :
Format rencana yang baik menurut kami, contohnya:
  1. Nama Rencana
Rencana Berlibur Ke Bangkok, Thailand
  1. Tujuan
-          berlibur bersama anggota kelompok selama lima hari, mulai hari Kamis, 29 Desember 2005 sampai hari Senin, 2 Januari 2006.
-          mengunjungi tiga tempat di Bangkok, Thailand, yaitu:
·         Grand Palace
·         Pasar Terapung Damnoen Saduak
·         Kuil Wat Po
dalam waktu tiga hari.
  1. Keadaan Saat Ini (Faktor Pendukung dan Hambatan)
Saat ini, keadaan Indonesia maupun Thailand relatif aman. Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan travel warning terhadap Thailand. Kurs mata uang juga relatif stabil. Keadaan ini dapat membantu upaya kami dalam mencapai tujuan.
Hambatannya yaitu, pada hari-hari tersebut jadwal kegiatan universitas belum diketahui, sehingga waktu berlibur dapat berubah. Selain itu pembuatan paspor juga akan memakan waktu. Cuaca di Asia Tenggara saat ini juga sedang tidak stabil, sehingga jika cuaca buruk, akan lebih susah untuk mengunjungi objek wisata di Bangkok.
  1. Alternatif “Skenario”
a.    Tidak mengikuti tur (berangkat sendiri)
Dari FE UGM Yogyakarta, naik taksi ke bandara Adisucipto, naik pesawat ke bandara Don Muang Bangkok, naik airport bus ke penginapan (Sukhumvit). Untuk mencapai tiga tempat tujuan dapat menggunakan tuk-tuk atau Skytrain. Saat pulang, naik bis hingga bandara Don Muang, lalu naik pesawat ke Yogyakarta.
Kebaikan    : Lebih bebas menentukan waktu dan acara
Keburukan : Akomodasi diusahakan sendiri
b.    Mengikuti layanan tur
Kebaikan    : Jadwal teratur, akomodasi terjamin
Keburukan : Tidak bebas menentukan acara dan waktu
  1. Rencana Tindakan Untuk Mencapai Tujuan
Kami memilih Skenario A karena pertimbangan jadwal kuliah dan waktu pelaksanaan. Skenario A memungkinkan kami menyesuaikan waktu dengan jadwal universitas. Rencananya:
Kamis, 29 Desember 2005
07.00   Berkumpul di kampus FE UGM Yogyakarta
08.00   Berangkat ke bandara naik taksi
09.00   Tiba di bandara, naik pesawat ke bandara Don Muang
14.00   Tiba di Bangkok (karena kemungkinan transit di Jakarta/Singapura), naik airport bus ke penginapan di Sukhumvit
16.00  Sudah berada di penginapan, istirahat
Jumat, 30 Desember 2005 – Minggu, 1 Januari 2006
Mengunjungi tiga tempat tujuan, berangkat dari penginapan pukul 08.00. Untuk hari Sabtu, 31 Desember 2005, pukul 23.00 mengikuti perayaan tahun baru di pusat kota.
Senin, 2 Januari 2006
08.00   Check out dari penginapan, menuju bandara Don Muang
10.00   Naik pesawat ke Yogyakarta
15.00   Sampai di Yogyakarta, pulang ke rumah masing-masing dengan bis/taksi.

  1. Anggaran
(Untuk setiap orang)
Transportasi keseluruhan                                             Rp 4.000.000,00
Biaya penginapan                                                        Rp    182.000,00
            (1 malam 500-700 Baht, 1 Baht = Rp260)
Lain-lain                                                                      Rp 1.500.000,00
Total Anggaran                                                           Rp 5.602.000,00
  1. Implementasi Rencana dan Evaluasi
Rencana ini membutuhkan waktu kurang lebih lima hari dan biaya kurang lebih Rp 5,6 juta untuk setiap orang.
Keberhasilan mencapai tujuan dapat dilihat dari tempat yang berhasil dikunjungi dan waktu yang digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut. Apabila waktu yang digunakan kurang dari yang ditentukan (toleransi 5 jam), maka akan semakin baik.

(Format ini adalah pengembangan dari format menurut John R. Schermerhorn, Jr.)

Tuesday, January 29, 2013

4 Days Macau - HongKong Trip

Greetings!
Setelah sekian lama berlalu, akhirnya saya bisa berbagi cerita tentang perjalanan saya ke Macau dan Hongkong bulan Maret 2012 yang lalu (maaf, sudah lama). Waktu itu saya pergi bersama teman-teman saya selama jadi buruh pabrik di Cikarang dulu, Mbak Olivya & Ester. Rute perjalanan kami: Jakarta - Kuala Lumpur - Macau - HongKong - Kuala Lumpur - Bandung (khusus untuk saya, ditambah penerbangan pp Jogja-Jakarta). Untuk tiket pesawat, total saya habis Rp1,1 juta. Murah ya? Tapi perjalanan kali ini sebetulnya tidak begitu menyenangkan, I'll tell you later.

Dimulai dari penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur, kami menaiki penerbangan paling malam (jam 20:00). Sebelumnya, saya sendirian dari Jogja, sore, dan menunggu teman-teman saya yang berangkat dari Cikarang. Waktu menunggu itu, saya juga sempat diberi berkah membantu seorang TKW yang tiket pesawatnya expired, bersama para petugas bandara (saya harus bertelepon ria sama majikannya di Malay pakai bahasa inggris, soalnya si TKW nggak ngerti harus ngapain, grrr...). Okay, kami sampai di Kuala Lumpur tengah malam waktu sana. Sialnya, karena mau ada Grand Prix F1 atau apalah itu di Sepang, kami diusir di bandara, karena bandaranya mau disemprot obat nyamuk. Akhirnya kami tidur di trolley, di luar, terus digusur lagi suruh pindah ke dalam. Nggak bisa tidur deh.

Penerbangan kami ke Macau pagi-pagi. Sampai di Macau, ternyata udaranya nggak sedingin yang diperkirakan, waktu itu suhunya sekitar 18 derajat Celsius. Kami langsung menuju dorm Augusters (sama seperti waktu saya pertama kali ke Macau). Sayang, Richard (penjaga yang ramah) sedang pergi keluar negeri. Karena sudah tahu trik-nya kalau di Macau, kami langsung pergi ke kompleks St. Paul's Ruins dan Senado Square. Tidak lupa mencoba eggtaart & semacam crepes kaki lima, lalu keliling casino. Tentu saja The Venetian dikunjungi. Kami sempat lihat Dragon Bubble Show (eh?) di City Dream dan Zodiac Tree di MGM (kalau nggak salah ingat, saking banyaknya casino yang dikunjungi). Kami keliling gratisan, naik shuttle dari Grand Lisboa - Macau Harbour. Balik ke dorm, kami jalan-jalan di area sekitar Senado yang penuh gereja dan bangunan tua.
Macau dari atas bukit

 
The Venetian

Hari berikutnya, sebelum menyeberang ke HongKong, kami ke Fisherman's Wharf dan sekitarnya. Yang bikin lama adalah mencari Wine Museum dan Grand Prix Museum. Kata orang-orang sih di sekitar Macau Harbour & Fisherman's Wharf. Setelah luntang-lantung hujan-hujan, Ester menemukan jalan yang benar. Pergilah kita ke Wine Museum yang ternyata satu bangunan sama Grand Prix Museum. Sesuai namanya, Grand Prix Museum berisi replika mobil-mobil balap, sedangkan Wine Museum ya isinya wine. Di sana kami membeli voucher wine tasting, bisa untuk cobain 3 wine yang berbeda. Karena kami bertiga, pesan saja yang beda-beda, jadi bisa cicipi semuanya, hohoho... Kami mencoba wine 19%, satu sloki sudah bikin puyeng.
Grand Prix Museum

Salah satu mobil balap

 Pilihan wine yang tersedia...

Setelah itu, pergilah kami ke Macau Harbour untuk menyeberang. Tiket sudah dibeli. Sambil menunggu, kami makan. Seporsi untuk bertiga, karena porsinya besar. Setelah makan, sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi. Salah seorang teman saya ini kehilangan benda berharga, ketinggalan di wastafel toilet, dan diambil orang. Kami bertanya ke petugas-petugas di sana, tapi mereka nggak ngerti bahasa inggris. Lost and found juga nggak ada :( Karena terdesak waktu keberangkatan ferry, terpaksa teman saya itu harus merelakan barangnya dan sampai sekarang, dia masih menghindari saya :(

Sampai HongKong, begitu mendarat di Kowloon, kami langsung jalan ke ChungKing Mansion (karena dapat penginapannya di sana). Lift-nya antri *sigh* dan Ester mendapat kamar terpisah di dorm, sementara saya dan Mbak Olivya satu kamar. Itu juga karena sedang peak season, penginapannya penuh. Bahkan besok malamnya kami menginap di penginapan yang berbeda lagi (tapi masih di ChungKing Mansion). Oiya, di trip yang kedua-kalinya ini, kamar mandinya sudah mendingan daripada waktu trip pertama. Kamar mandi, walaupun ukurannya tetep 1x1,5 meter, tapi sudah BERPINTU :) Hari itu diisi dengan pergi ke Ladies Market dan lihat-lihat Harbour. Sayangnya kami melewatkan Symphony of the Lights. 

Keesokan harinya, kami ke Flower Festival di Causeway Bay. Bagus sekali bunga-bunganya ^^ ada tulip juga, asli! Karena itu hari Minggu, maka seperti biasa, banyak TKI. Kami bertemu dengan salah seorang pembantu yang modis (nggak penting ya). Dari Causeway Bay lanjut foto-foto di depan Disneyland dan ke Ngong Ping. Sampai Ngong Ping sial lagi. Cable car-nya nggak jalan. Konon sudah beberapa bulan tutup karena maintenance. Ester malah senang, soalnya dia takut ketinggian :p Akhirnya kami naik bis ke Giant Buddha dan bisnya itu harus antri panjang... Sampai puncak Ngong Ping, kami ke Giant Buddha, foto-foto, makan vegetarian, dan balik naik bis juga (dan antri juga). Bis terakhir berangkat jam 4 sore dari Ngong Ping. Setelah itu, kami menuju The Peak menggunakan bus. Maunya sih cobain naik tram yang terkenal curam itu. Nggak taunya, setelah muter-muter, bisnya sudah sampai puncak --" Ya sudah, kita lihat pemandangan yang agak berkabut dari atas (nggak minat masuk ke Madame Tussauds). Pulangnya barulah kami naik tram yang antri panjang... Sekali lagi, kami melewatkan Symphony of Lights, hanya bisa melihat dari dalam peak tram yang penuh. Saya berdiri di dalam tram yang curam itu.

Beautiful flowers!

Malam sebelum pulang, kami sudah di penginapan yang beda lagi. Kami bertiga ditempatkan di satu kamar, plus satu cowok Madagaskar. Dia pedagang yang kulakan, makanya bawa koper-koper raksasa. No problemo. Setelah menginap semalam, pagi-pagi kami sudah harus ke bandara HongKong. Saran saya, berangkatlah 3-4 jam sebelum terbang, karena begitu sampai bandara, masih harus jalan/naik subway gonta-ganti. Oiya, MTR ke bandara HongKong tarifnya beda dengan MTR biasa. Kalau dirupiahkan kira-kira Rp130.000. Kami sarapan di bandara, dan ternyata Burger King di HongKong itu murah! :D Yea, terbanglah kami ke Kuala Lumpur, lalu ke Bandung. Sampai di Bandung sudah malam. Saya memilih menunggu di shuttle Cipaganti, sementara kedua teman saya naik bis ke Cikarang. Saya naik Cipaganti jam 1 dini hari ke Soekarno-Hatta. Sampai sana jam 4 dan penerbangan saya ke Jogja jam 5:50.

Well, that's my experience. Akhirnya ditulis juga di sini :) Kalau ada pertanyaan, silakan ditulis di comment, di bawah ya...

Monday, December 31, 2012

The 2012 Review

This is the last day of 2012, the year that changed my life. Right after the 2012 new year party, I had to fly to Jakarta, to start my internship with KRA Group, a business consultant, headquartered in Malaysia. On January 6, 2012, I had to fly back to Yogyakarta, all in a day, because of my Master research proposal exam. Three days after, I flew to Kuala Lumpur, Malaysia, and worked there for almost 3 months. I spent almost every weekend exploring the Peninsula.

One month after, I tried to go to Singapore for the first time, using the train. I visited several objects for free. When I went back to Kuala Lumpur, the immigration staff gave me the wrong stamp. I had a professional working visa, but the staff did not see it and gave me the tourist stamp mentioned that I was permitted to stay only for 30 days in Malaysia. I had to go out of Malaysia and back to get a new stamp. Then I chose Thailand. I went to Hat Yai, a small town in the Southern Thailand. I used the bus. I traveled only by myself. Hat Yai taught me several Thai words, such as "sawadee kha" and "khob khun kha" :) I had fun in Hat Yai, with some new friends from Sweden, Italy, and Taiwan.

I went back to Yogyakarta on March 9, 2012. Ten days after, I flew to Jakarta, and then to Macau and Hong Kong, with the two friends of mine. I had an unforgettable moment there. Back to Yogyakarta, then in the earlier of May 2012, I flew to Jakarta, Penang (Malaysia), and then Langkawi (Malaysia), with a friend. Langkawi has a great view, even though we did not go to the bridge, because it was closed that time. I had a surprise at the airport on my trip home, because when I checked my e-mail, I was noticed that my research paper had been accepted for a conference in Rome, Italy ^^ I spent one night in Kuala Lumpur, I was so sorry to my travel partner, because I put her in an uncomfortable condition :( However, I met a nice guy from San Francisco, who does not believe that most of Indonesians do not have family name, LOL.

Well, then, on June 4-10, I went to Rome, Italy (and also Vatican). It was my first time journey to Europe. I stayed in a mixed dormitory, one-room-for-ten people, so I met nice people from around the world. I experienced my first jet-lag, hahaha... I learned from my experience in Thailand, so I ordered wine + apple juice on the flight. It helped me to sleep. I was sick on my first night in Italy. Too much wine, maybe :p It was really bad. But then, the following nights were fun. I went to the conference at the daytime, and hung out with my new friends from the U.S., Brazil, Germany, etc. at night ^^ The hostel has Sangria Party every night. I love Sangria! Vatican, the smallest country in the world, is near the hostel. I used to walk to Vatican :p Oh ya, I met the Pope twice. One in the audience, every Wednesday, and the day after, the Pope celebrated a mass, and I was in the front row ^^ It was like a Hajj for me.

A couple of weeks after my trip to Italy, I went to Singapore (again!). I flew from Yogyakarta to Singapore, just to spend the weekend. I met my old friend from New Delhi, India in Singapore. We met for about 15 years ago, and finally I met him face-to-face :D

I had both good and bad news last June. The good news was I got the Best Paper Award for my presentation in Rome, and the bad news, my boyfriend was diagnosed with kidney failure.

August was supposed to be Raya (holiday) for Indonesians. But not for me. My boyfriend was ill and he was hospitalized. I helped him to look for blood donors. I was so down. My boyfriend had blood dialysis twice a week. He could not work anymore. I am very sad.

Early September, I went to Ho Chi Minh City, Vietnam with the two friends of mine. I met new friends from Slovakia during flight. They ate "kacang" (ground peanuts) on the plane ;) It was a small world, they knew my Indonesian friend who is studying in Austria. Ho Chi Minh was like Yogyakarta, my hometown. Many motorcycles there, so be careful to cross the road. We had Mekhong River tour, and Cu Chi Tunnel tour. We explored the city. I had an extreme drink there: snake and scorpion beer. It was snake and scorpion, brewed, and we drink the water... eww.. We met a nice German lady during the Mekhong tour.

I was in Jakarta on my birthday, packing my boyfriend's things, because he moved to Yogyakarta. I went with his sister. It was a good chance to give his sister a flight experience, because she had never flown before. So, I flew home on my birthday. I met a smart German guy at the airport. He was the first person who said "happy birthday" to me ^^

Late September, I successfully defended my Master thesis. It was a birthday gift for me. Believe it or not, a couple of days before my thesis defense, my exam-partner donated his blood to my boyfriend ^^;; It was hard to think about my love life while working on my thesis, hahaha. The graduation ceremony was held on October 24, 2012, with the yellow penguin costume (it means Cum Laude). I am officially a Master of Science in Management!

Late October, I promised my boyfriend to go abroad with him. Then, we visited Kuala Lumpur and Penang (Malaysia). It was his first time using his passport. Penang is nice with the old buildings. I had to be careful all the time. I went with a kidney failure patient, so I had to choose the foods and reminded him not to drink too much. We enjoyed our weekend in Penang and Kuala Lumpur. We stayed at a mixed dorm, with some Singaporean and Hong Kong girls and a nice guy from Holland. We used the free CAT bus to explore the heritage area.

Ten days after, I went to London, U.K., to present my thesis summary in an academic conference. I was lucky, I got my second chance visiting Europe in one year. London was nice, I met smart people there, including the young PhD students from Malaysia, a smart Pakistani lady from China (eh?), and a nice organizer lady. I went to the University of London and the University of Reading. London makes me feel like I want to study there :D I stayed in a girls' dormitory. Actually, on the first day, I stayed in Russell Square, in a mixed dormitory, with 15 people in a room, and I moved on the next day to King's Cross. The girls' dorm was occupied by 10 girls in a room. It was funny when I tried to talk to a Chinese woman in English. She was shy to speak English, hahaha... However, I do not think that I have a good English, too. English is my third language :p There were girls from France, Austria, Lithuania, Iran, China, and Spain in the room. They were nice. It was a great experience to cook with a French nutritionist ^^ I am a bad cook! Oh ya, the hostels in London mostly serve breakfast for free :D I had a total 14-15 hours inflight from London to Jakarta. It was uncomfortable to transit in the Middle-East, because there would be many Indonesian blue-collar workers on the plane :S I hate to be judged as one of them. I am an academic, hello... I remember my flight from Italy, I pretended to be a Filipino who cannot speak Indonesian language during flight, because a man judged me as an Indonesian worker and talked to me rudely :( Anyway, I met the flight attendant. She looked so tired and I felt like hell because of the Indonesian workers around me. I tried to talk to the flight attendant, and she was nice. It was like 24 hours flight from London to Jakarta, and then to Yogyakarta.

A couple of weeks after, I went to Bangkok, Thailand, as a solo backpacker. Spent my weekend there. I was so stressful. I explored the city, I went to the Grand Palace and the Wats (temples) around. Thai people are kind ^^ I met some friends from Couchsurfing there: a girl from Taiwan, and a boy from Thailand. We had a nice dinner. I stayed in a girls' dormitory, in a hostel, and I met new friends from the Philippines, the U.S., Australia, Italy, and also from Bali, Indonesia, hahaha... I lost my Javanese accent :p The funny thing was, Thai people used to think that I am a Thai, unless I speak English to them. Sawadee kha! Bangkok got the cheaper fashion things ^^ I bought jeans for only 99 bahts.

I thank God because of my experiences in 2012. I have to focus to my PhD application and I plan to stay in Indonesia, then study abroad at the end of 2013. I wish I could be a better woman, a better friend. I did bad things in 2012. I got depressed. I want a new life. May God help me. Happy New Year!
 

-Maria Delarosa Dipta Dharmesti
(my full name is too long, and I think "Dipta" is too hard to spell for foreigners, so "Maria" is also OK for me :))

 

Saturday, November 3, 2012

Mengurus Visa UK (Inggris/United Kingdom)

Welcome November!

Saya ingin berbagi pengalaman saya mengurus visa UK. Tidak disangka sebelumnya, saya akan pergi ke salah satu negara terhebat di dunia, yang memiliki koloni di mana-mana, mata uang terkuat di dunia, dan dengan status saya sebagai mahasiswa yang kere alias miskin >.< Yup, orang miskin bisa ke Eropa :D

UK sudah lebih tertata dalam urusan visa, tidak seperti Italia yang masih gagap visa untuk urusan konferensi akademik (Juni lalu saya dikasih visa TURIS untuk presentasi di konferensi akademik di Italia, setelah melalui perdebatan yang lama dengan petugas, hehehe), silakan baca pengalaman saya mengurus visa Schengen Italia di http://diptadh.blogspot.com/2012/06/mengurus-visa-schengen-italia.html. Di permohonan aplikasi visa UK, golongan visa beserta syarat-syaratnya sudah tertera dengan lengkap di situsnya. Informasinya silakan dibaca di http://www.ukba.homeoffice.gov.uk/visas-immigration/visiting/ 

Setelah membaca dan mengira-ngira visa yang akan dibutuhkan beserta persyaratannya, pemohon visa diwajibkan mengisi formulir secara online di http://www.visa4uk.fco.gov.uk/ 

Formulir tersebut bisa di-save, kalau informasi yang dibutuhkan belum didapat. Ketika formulir sudah lengkap (belum lengkap juga gapapa ^^ , silakan buka http://www.vfs-uk-id.com/ ini adalah visa application centre yang ditunjuk oleh British Council di Indonesia. Sejak 3 September 2012, semua permohonan visa dan penyerahan dokumen aplikasi melalui VFS dan harus dengan appointment. Silakan buat appointment melalui situs tersebut, sebelum menyerahkan dokumen ke sana (kantornya di Plaza ABDA, lantai 22, depan FX Senayan).

Kemarin saya juga mondar-mandir mempersiapkan dokumen aplikasi visa, terutama untuk sponsor dan bukti keuangan. Sebagai mahasiswa miskin, saya harus menunggu surat dan bukti keuangan sponsor. Oke, berikut dokumen yang dibutuhkan untuk aplikasi visa UK:

1. Paspor asli (berikut paspor lama kalau sudah pernah punya) dan print-out formulir online yang sudah diisi lengkap, sebaiknya ditandatangani di depan petugas di VFS.

2. Surat undangan. Saya apply untuk visa kategori bisnis, jadi saya sertakan undangan dari pihak penyelenggara konferensi.

3. Surat sponsor. Ini seperti waktu mengurus visa Schengen, harus ada surat sponsor dan bukti keuangan sponsor. Bisa minta dari kampus (maklum, mahasiswa miskin). Sponsor juga bisa orangtua, kalau orangtua kelihatan kaya dari segi buku tabungan, hahaha *yang ini bercanda* Kalau sponsor orangtua, maka orangtua pemilik rekening bukti keuangan wajib membuat referensi bank yang menyatakan nasabah sejak kapan, dan jumlah saldo terakhir, fotokopi buku tabungan 6 bulan terakhir, dan surat pernyataan (dalam bahasa inggris), ditujukan untuk UK Border Agency, yang menyatakan akan menanggung segala biaya yang diperlukan selama di UK dan menjamin bahwa yang disponsori tidak mencari kerja di UK, serta akan pulang ke Indonesia.

4. Sesuai formulir online, bila ada biaya yang ditanggung sendiri, maka pemohon wajib menyertakan bukti keuangan pribadi (referensi bank dan fotokopi buku tabungan 6 bulan terakhir). Sekedar berbagi info, ini yang membuat saya mondar-mandir di beberapa bank. Saya punya tabungan, tapi kalau ditotal 10 juta aja nggak nyampe, hehehe, makanya masuk dalam kategori "miskin." Permohonan visa saya diterima dengan account segitu, apalagi Anda yang punya tabungan lebih banyak :))

5. Untuk membuktikan status saya sebagai mahasiswa, maka saya menyertakan surat keterangan dari kampus saya, bahwa saya akan pergi ke UK dalam rangka presentasi tulisan saya di forum akademik di sana. Saya buat sendiri suratnya dalam bahasa inggris dan ditandatangani pihak kampus :) Tak lupa fotokopi kartu mahasiswa saya sertakan.

6. Untuk meyakinkan pihak UK Border Agency, saya juga menyertakan kopi slip gaji kerja serabutan saya, pada awal kerja, dan 6 bulan terakhir. Hal ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa saya tidak akan jadi pekerja illegal di UK.

7. Bukti akomodasi seperti book penginapan dan print-out tiket pesawat yang confirmed (bisa minta ke agen travel, saya kemarin minta tolong Nusantara, di depan XXI Jogja) juga disertakan. Untuk penginapan, demi menekan biaya, saya menggunakan dormitory atau hostel yang murah, kira-kira £25 per malam (itu termasuk murah lhooo....). Book biasanya pakai DP 10% dan dibayar pakai kartu kredit. Karena saya ditolak melulu kalau apply kartu kredit - karena miskin, maka saya minta tolong teman yang punya kartu kredit.

8. Selain dokumen di atas, syarat lain adalah foto ukuran 3,5 x 4,5 cm, berwarna, latar belakang putih, dan nggak boleh senyum ataupun cemberut! (ada syarat fotonya, detail), sebanyak 2 lembar. Kalau mau aman, foto di VFS saja, tapi mahal, Rp45 ribu cuma dapat 4, hehehe...

9. Fotokopi yang dibutuhkan: akte kelahiran, kartu keluarga, akte nikah (bagi yang sudah nikah), dan fotokopi KTP.

10. Untuk meyakinkan pihak UK (lagi), saya menyertakan korespondensi saya melalui e-mail dengan pihak pengundang saya di UK.

Saya harus menyerahkan dokumen sendiri ke VFS, karena selain penyerahan dokumen, juga pengambilan data biometrik, seperti data retina dan sidik jari kesepuluh jari tangan. Selain aplikasi visa, kemarin saya juga ditawari jasa pengiriman visa ke Jogja (karena rumah saya Jogja), dengan menambah Rp50 ribu. Kalau Anda pernah dapat visa bisnis ke negara Schengen atau U.S., maka Anda bisa menambah Rp950 ribu untuk pemrosesan prioritas. Sesuai dengan informasi di situs UK Border Agency, biaya pembuatan visa Rp1.121.000.

Visa bisnis berlaku selama 6 bulan dan multiple entry, artinya, kalau punya uang buat beli tiket pesawat, saya bisa keluar-masuk Inggris dalam 180 hari setelah visa dikeluarkan :)

Proses visa dapat dipantau melalui https://www.vfs.org.in/UKG-PassportTracking/ApplicantTrackStatus.aspx?Data=LpemHHvlH7bp48AezPuUoQ== dengan memasukkan nomer aplikasi yang ada "..../..../...." itu dan tanggal lahir pemohon.

Visa saya baru jadi 2 minggu setelah dokumen masuk. Petugas VFS sudah memberitahu saya kalau bakal lebih lama dari biasanya. Belakangan, saya baru tahu kalau Presiden RI juga pergi ke UK di tanggal yang hampir bersamaan dengan kepergian saya #loh

Yup, sekian cerita pengalaman saya mengurus sendiri visa UK, jika ada yang ingin ditanyakan, silakan berkomentar di bawah, siapa tahu saya bisa membantu :) 

Visa UK saya