Friday, May 27, 2011

Music Lives Up My Life!

Hidup adalah musik. No life without any music. Bahkan pada zaman prasejarah, orang sudah bermusik. Setiap perasaan, baik itu susah maupun senang dapat diekspresikan dengan musik. Setidaknya itu yang saya alami sepanjang hidup saya.

Setiap bayi yang hidup di dunia ini pasti mengawali hidupnya dengan sebuah nyanyian. Ya, tangisan bayi adalah nyanyian pertama bayi tersebut di dunia. Begitupun dengan saya. Sejak kecil orangtua saya telah mengenalkan musik kepada saya, walaupun mereka bukan pemusik ataupun penyanyi. Ketika masih balita, ibu saya mengajari saya sebuah nyanyian yang dinyanyikan saat hujan.

"Rain, rain go away, come again another day,
little children, little children, little children want to play"
Lagu singkat dan sederhana, tapi dulu saya percaya, hujan akan berhenti jika saya menyanyikan lagu itu, dan saya bisa bermain di luar rumah. Buku cerita Noddy karangan Enid Blyton merupakan buku favorit saya saat playgroup. Buku itu menceritakan Noddy, boneka yang suka mengarang lagu. Karena dalam buku itu ada syair dan tidak ada notasinya, maka kadang-kadang ayah saya mengarang nada untuk menyanyikan syair dalam buku itu, hahaha... Kreatif juga beliau. Saat akan tidur, tak jarang beliau memainkan nada-nada dari keyboard mini untuk mengantar saya tidur. Begitulah awal perkenalan saya kepada musik.

Saat ulang tahun saya yang ke-10, ayah saya memberi kejutan. Diam-diam saya dibelikan sebuah gitar besar yang lubangnya banyak, seperti model gitar KLA Project waktu itu. Tinggi gitar dan tinggi saya hampir sama, hahaha... Selain gitar, juga ada buku akor gitar yang berisi lagu-lagu "jadul" seperti Why Do You Love Me (Koes Plus). Awalnya saya malas belajar main gitar, karena sebetulnya saya lebih ingin main piano. Saya sempat belajar piano hanya selama 3 bulan dengan tetangga saya, hehehe.... Nah, lama-lama saya tergelitik juga melihat gitar yang menanggur karena orang di rumah nggak ada yang bisa memainkan alat musik "betulan". Saya mencoba-coba sendiri bermain gitar. Lagu yang setia mengiringi saya adalah lagu-lagu The Moffats, karena akornya mudah. Dulu saya adalah penggemar berat album pertama The Moffats (bukan saat masih menjadi Moffat Brothers, lho :) Saya kagum karena mereka bisa mengarang lagu dan bernyanyi sambil bermain musik. Menurut saya, itu hebat karena kebanyakan band hanya bermain musik saja atau menyanyi saja tanpa memecah suara.
 Me & my first guitar

The Moffatts - Miss You Like Crazy

Hal yang berkesan adalah saat SMP. Baru 1-2 bulan menjadi siswa SMP, kelas saya diminta ikut lomba band antarkelas. Wow... Ajang itu menjadi penampilan band pertama saya yang bernama "Kaisar", gabungan huruf belakang nama personilnya. Lagu pertama yang dibawakan adalah Pretty Fly (For A White Guy) yang dipopulerkan The Offspring. Saya menyanyi bersama sang vokalis, sambil main bas yang tingginya mungkin sama dengan tinggi badan saya waktu itu, hahaha... Penampilan pertama cukup sukses. Band kami menjadi band terfavorit. Saya mendapat sekuntum mawar merah dari seorang kakak kelas di panggung. Karena tangan saya sibuk mencabik bas, saya gigit aja tuh mawar, hihihi.... 

Dulu saya adalah anak yang sangat pemalu. Keberanian untuk tampil baru muncul saat SMP. Gara-gara waktu itu teman sebangku saya selama 3 tahun mengatakan kalau saya bisa menyanyi dan mengajak saya menyanyi (padahal dulu saking pemalunya, dipilih jadi anggota paduan suara aja nggak pernah!). Tampaknya saya memang "berjodoh" sama teman yang satu ini, soalnya SMA bareng (tapi beda kelas sih), dan kuliah satu jurusan juga. Thanks to her, because she encouraged me to sing :)

Saya menyukai pelajaran Seni Musik. Lagu pertama saya yang berjudul Sadness Sign (karena bercerita tentang kematian seorang cewek karena mengemudi saat mabuk) tercipta gara-gara pelajaran itu. Di ujian akhir SMP, kelompok saya mengaransemen dan memainkan lagu Dido - Thank You. We want to say "thank you" to our teachers and friends, begitupun saat lulus, lagu Vitamin C - Graduation (Friends Forever) mengiringi kami.
The Offspring - Pretty Fly (For A White Guy)
Dido - Thank You
Vitamin C - Graduation (Friends Forever)

Ada juga hal yang tidak begitu menyenangkan. Saat broke-up dengan pacar pertama saya, teman-teman sekelas menghibur dengan menyanyikan lagunya Shaden - Dunia Belum Berakhir ("jadul!" :p), Westlife - Fool Again, dan M2M - The Day You Went Away. Kalau sedih, saya masih sering menyanyikan lagu-lagu itu dengan gitar dan saya dapat merasa lebih baik :) Belum lama ini, saya juga menggunakan salah satu lagu itu untuk menghibur seorang teman, dinyanyikan dengan suara pas-pasan (see http://diptadh.blogspot.com/2011/03/fool-again.html).
Shaden - Dunia Belum Berakhir

 M2M - The Day You Went Away
Di bangku SMA, kadang-kadang saya masih bermain musik bersama teman-teman sekelas. Kali ini saya lebih sering memainkan keyboard, karena mayoritas teman main band saya yang cowok-cowok menganggap keyboard feminim (I don't think so!). Padahal waktu itu favorit saya adalah musik alternatif macam Blink 182 dan Avril Lavigne. Yup, the show must go on!

Menjelang kuliah, orangtua saya sempat menawari untuk melanjutkan sekolah ke institut seni, namun saya lebih memilih S1 jurusan manajemen di sebuah universitas negeri terbaik di Jogja dan jurusan farmasi di sebuah universitas swasta. Lho?! Biar temannya banyak, hehehe.... Musik sangat membantu menghibur saya di sela-sela kuliah yang padat. Kegiatan paduan suara universitas membantu saya mengurangi stress. Lumayan, bisa teriak-teriak habis kuliah :D Theme song-nya kebanyakan lagu aliran klasik berbahasa aneh-aneh seperti An Der Schonen Blauen Donau (Strauss), Aria (Bach), sampai Memory (Cats). Kadang-kadang saya beruntung bisa sepanggung dengan musisi terkenal seperti Slank atau sama-sama jadi artis dengan Yovie & The Nuno, kalau paduan suara sedang ada job di event tertentu. Di kampus, saya juga sempat rekaman bersama teman-teman dengan lagu ciptaan teman-teman dan aransemen sendiri. Saya diminta 2 band peserta rekaman mengisi bagian keyboard dan sebagian vokal. Lagu yang dimainkan bercerita mengenai gempa Jogja lima tahun yang lalu dan lagu lainnya adalah lagu beraliran alternatif mengenai seorang ayah. Kebetulan ada dosen-dosen baik hati yang bersedia mensponsori sebuah album kompilasi di fakultas :) 

Di kampus yang lain (farmasi), saya juga bergabung sebagai keyboardist dengan band yang cukup sering manggung di Jogja waktu itu (zaman sponsor rokok masih diperbolehkan di universitas, hehehe). Malah suatu ketika, karena kepepet dan nggak ada yang main drum, saya bermain drum lagunya Franz Ferdinand - Do You Want To ditonton ratusan orang untuk pertama kalinya... Grogi juga :p Sewaktu menjadi panitia OSPEK, saya juga tergabung dalam band seksi kesenian yang bertugas menciptakan soundtrack OSPEK berikut dance-nya. Seumur-umur hanya pada event itu saya mengajari orang menari (padahal nari aja kayak robot!). Dua tahun berturut-turut saya jadi panitia OSPEK. Beruntunglah yang sempat menonton saya waktu itu, 'cause it won't happen again, hehehe...
Franz Ferdinand - Do You Want To

Masa-masa "ke-artis-an" saya berakhir saat lulus kuliah dan bekerja di sebuah pabrik farmasi di daerah Bekasi. Di sana pekerjaan saya cukup padat. Masuk jam 07.00, pulang pernah jam 00.30, bahkan jam 03.00, dan no music at work! (Menderita juga, walaupun teman-teman saya di sana baik sekali dan kompak, bahkan orang-orang bagian security sering ngajak main band). Saya hanya mendengarkan musik di kost dan sering mellow sendiri (ngaku nih!). Lagu favorit saya saat di perantauan adalah Il Divo - Mama, Queen - Somebody To Love, dan Asher Book - Try. Dengan pengalaman saya "kerja rodi" seperti itu, orangtua mengharapkan saya pulang ke Jogja dan melanjutkan S2. Saya juga kangen bangku kuliah, hehehe... dan harapan terkabul. Cukup 8 bulan "menderita", saya berhasil resign dan diterima di master of science program jurusan manajemen sebuah universitas negeri terbaik di Jogja. Ternyata kuliah lebih menyenangkan daripada kerja di pabrik -menurut saya lho- Roda seperti berputar dan saya seperti mendapatkan kembali segala yang "hilang": musik, kebebasan, keluarga, dan pacar saya pun kembali setelah saya resign :) What a miracle! Bahkan, saya pun mendapatkan bonus pekerjaan yang dapat dilakukan sambil kuliah di Jogja, dengan full music di kantor, karena bos saya juga suka bermusik :) Itulah pengalaman hidup saya bersama musik. We are born this way (Lady Gaga), and yes, welcome back to the music, and let the music lives up your life.
Il Divo - Mama


No comments:

Post a Comment