Monday, March 21, 2011

Product Quality Review

Product Quality Review (PQR) digunakan untuk untuk melihat dan mengidentifikasi trend kualitas produk. Dokumentasi ini dilakukan sebagai pengkajian mutu produk secara berkala. Hasil PQR dapat digunakan sebagai faktor pengontrol terhadap produk jika terdapat penyimpangan sehingga dapat dilakukan tindakan penanganan dan perbaikan untuk meminimalkan komplain dan product recall jika produk tersebut masuk ke pasar.

PQR merupakan sistem statistik dan diisi berdasarkan nilai uji dari bagian Quality Control (QC) terhadap parameter kualitatif dan kuantitatif suatu produk dengan standar yang sudah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui dengan segera jika dalam suatu proses produksi terdapat out of specification (OOS) dari hasil yang diperoleh. PQR Report dibuat setiap tahun namun diperbaharui dan diperiksa setiap dilakukan pengisian data PQR baru dengan adanya produk atau batch baru yang telah selesai dianalisis. Pengisian PQR juga merupakan kelengkapan yang harus dilakukan sebelum suatu batch akan di-release. 
 
Langkah awal PQR adalah dengan melakukan review terhadap dokumen terkait suatu batch (batch record) produk tertentu. Batch record dibuat pertama kali dibuat di bagian produksi (mulai dari manufacturing order), dilanjutkan dengan bagian pengemasan, in-process-control, bagian QC, dan akhirnya didokumentasikan di bagian Quality Assurance (QA). Di bagian QA, batch record di-review, diteliti kembali bilamana terdapat lampiran yang tidak sesuai dengan data (contoh: lampiran penimbangan), serta coretan yang belum diparaf. Bila terdapat kesalahan, batch record akan dikembalikan kepada bagian terkait untuk direvisi.

Dalam PQR, produk yang sama mungkin terdapat 2 statistik karena adanya perbedaan pada pengujian. Untuk pengujian yang lengkap dalam 1 batch maka digolongkan dalam full analysis, namun jika hanya komponen tertentu yang dianalisis maka dimasukkan dalam statistik PQR skip. Pengujian skip lot dilakukan jika produk tersebut sudah sering diproduksi sehingga dalam melakukan testing hanya parameter tertentu dalam standar yang dilakukan pengujian. Skip lot testing memungkinkan penghematan waktu jika dalam satu periode produksi, batch dari suatu produk banyak diproduksi maka pengujian dapat dilakukan sebagian.

Analisis PQR dilakukan berdasarkan data yang ada. Analisis tersebut meliputi perhitungan rata-rata, SD, 3SD. Nilai dari 3SD ini kemudian digunakan untuk menentukan nilai Upper Control Limit (UCL) dan Lower Control Limit (LCL). UCL merupakan jumlah dari mean dan 3SD (mean + 3SD), sedangkan LCL merupakan hasil pengurangan mean dengan 3SD. Upper Standard Limit (USL) dan Lower Standard Limit (LSL) adalah batas nilai parameter berdasarkan standar yang berlaku, misalnya label claim dan standar GMP. Analisis tersebut dilakukan perbaharuan setiap dimasukkan data baru. Update PQR perlu dilakukan setiap pemasukan data baru sehingga jika ditemukan penyimpangan dapat segera diketahui dan dilakukan penanganan.

Contoh Grafik Kontrol Kadar Zat Aktif
 

Informasi yang terdapat dalam PQR meliputi: 
1.      Informasi umum, yaitu:
a.       Nama produk secara lengkap
b.      Nomer formula
c.       Nomer batch yang diproduksi pada tahun terkait beserta manufacturing date (MFD)
d.      Jumlah batch yang diproduksi
e.       Keterangan mengenai kemasan produk tersebut
2.      Review mengenai starting materials dan packaging materials yang digunakan, terutama jika menggunakan approved supplier(s) baru.
3.     Review mengenai Critical In-Process Control (IPC) dan Finished Product Results
Bagian ini berisi spesifikasi produk, perbandingan antara label claims at release dan at the end of shelf-life. Hal yang dibandingkan meliputi: dengan spesifikasi
·         karakter umum (appearance, panjang atau diameter, lebar atau ketebalan, massa, dan hardness),
·         hasil uji kualitatif zat aktif (positif atau negatif),
·         hasil uji kuantitatif zat aktif,
·         hasil periodic test kontaminasi mikrobia.
Selain itu, critical IPC berisi hasil analisis trend-line di data PQR yang terkait dengan sifat fisik produk (misal: average mass), maupun yang terkait dengan finished product results (misal: kadar zat aktif dan yield).
4.      Review mengenai semua batch yang gagal memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan serta investigasinya.
Bagian ini menginformasikan penyimpangan (deviasi) produk terkait dari spesifikasi yang telah ditentukan, baik deviasi produksi maupun stabilitasnya. Selanjutnya, bila terdapat deviasi, akan diinformasikan pula status batch yang menyimpang tersebut: rejected, diproses ulang, reworked, atau bila tidak terdapat keterangan, maka batch tersebut tetap released.
5.      Review mengenai deviasi yang signifikan, investigasi, dan hasil Corrective and Preventive Actions (CAPA) yang telah dilakukan.
Bagian ini berisi rangkuman deviasi yang signifikan mempengaruhi kualitas produk, berikut informasi tindakan yang telah diambil untuk mengatasi deviasi tersebut.
6.      Review mengenai perubahan-perubahan yang dilakukan terhadap proses produksi maupun metode analisis.
Bagian ini terdiri dari:
·         Perubahan terhadap master batch record, contoh: penggantian bahan baku, eksipien, maupun bahan pengemas
·         Perubahan terhadap metode analisis, contoh: perubahan lama analisis (waktu)
·         Perubahan lainnya yang berpotensi mengubah kualitas produk
7.      Review hasil stability monitoring program dan adverse trends yang terjadi.
Bagian ini berisi informasi mengenai studi stabilitas produk yang belum kadaluarsa (current and new additional study), serta follow-up study (FUS) dalam tahun terkait. Apabila terdapat masalah stabilitas (contoh: perubahan warna pada waktu tertentu), maka dapat dikatakan sebagai adverse trends dan digolongkan sebagai penyimpangan terhadap spesifikasi selama waktu penyimpanan (shelf-life).
8.      Review mengenai pengembalian produk yang sudah beredar di pasar, komplain, dan recall produk, serta investigasi yang dilakukan.
Pengembalian produk –bila tidak terdapat komplain atau recall- dilakukan bila produk sudah kadaluarsa.
9.      Review mengenai tindakan korektif terhadap proses produk atau peralatan yang telah dilakukan sebelumnya.
Bagian ini berisi evaluasi PQR tahun sebelumnya, apabila PQR tersebut mempengaruhi standar terkait proses produk.
10.  Status kualifikasi equipment dan utilities yang relevan, misalnya: HVAC, mesin produksi, kualifikasi air, compressed gases, dan lain sebagainya.
11.  Review mengenai Technical Agreements dan memastikan bahwa agreements yang digunakan sudah up-to-date.
Bagian ini berisi informasi mengenai testing technical dan review packaging of bulk products manufactured dari perusahaan lain.
12.  Kesimpulan
Jika ditemukan adanya suatu kecenderungan proses yang di luar batas atau mencapai nilai minimal/batas bawah secara terus menerus, serta diduga proses tersebut beresiko, maka seharusnya masalah ini menjadi perhatian dengan diterbitkannya Deviation Control dan membuat tindakan perbaikan. Tindakan ini juga berlaku jika terdapat nilai yang melebihi batas maksimal/batas atas. Dengan adanya penyimpangan tersebut, maka dikeluarkan alert sebagai perhatian bahwa ada hasil yang tidak sesuai dengan standar.
13.  PQR Report dilengkapi dengan data batch dan trend analysis.

Jika penyimpangan yang ditemukan menunjukkan adanya salah satu proses yang di luar batas normal, maka temuan ini harus segera dilaporkan kepada pihak manajemen supaya memperhatikan temuan tersebut sehingga dapat dilakukan evaluasi dengan segera terhadap proses yang berlangsung.

Tahapan dalam pembuatan PQR, terlebih dahulu mereview batch record selama satu periode. Data dari masing-masing batch dimasukkan dalam statistical control chart. Melalui control chart, data proses/produk dapat dimonitor setiap waktu untuk mengidentifikasi perubahan potensial dan pergeseran kinerja. Berdasar proses analisis kapabilitas, diperoleh nilai yang dapat digunakan untuk memprediksi hasil, baik yang memenuhi atau tidak memenuhi spesifikasi, sehingga pada akhirnya dapat ditetapkan kapabilitas dan ketegaran proses.

No comments:

Post a Comment